BAGAIMANA ANDA MENCINTAI SANG BUAH HATI?
Oleh: Al Maghribi bin As Sayyid Mahmud Al Maghrib
Cinta kepada buah hati adalah fitrah
manusia yang dibenarkan syari’at. Orang tua sewajibnya menempatkan cinta dan
kasih sayangnya kepada anak secara benar. Sebab anak adalah amanah bagi orang
tua. Mengekspresikan cinta kepada anak melalui didikan dan arahan yang benar,
sebagai tindakan bijaksana dari orang tua yang betul-betul memahami hakikat
cinta kepada anak. Membimbingnya agar tumbuh menjadi generasi yang lurus dan
tangguh, mampu mengemban tugas-tugasnya sebagai hamba Allah dan sebagai bagian
dari masyarakat. Sehingga mustahil dapat membimbing mereka dengan arahan dan
didikan yang benar, jika kita tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Di
sisi lain, tidak sedikit orang tua yang keliru mengejewantahkan rasa cinta dan
kasih sayangnya sehingga justru melahirkan sikap manja, pengecut dan sederet
sikap tercela lainnya pada anak. Hingga membuahkan petaka dan penyesalan di
penghujungnya. Lalu bagaimanakah wujud cinta kita yang benar kepada anak?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah teladan agung yang telah memberikan contoh kepada kita. Beliau adalah
orang yang begitu besar rasa kasih sayangnya terhadap anak-anak. Sejarah hidup
Beliau telah menorehkan kumpulan petunjuk, bagaimana mewujudkan rasa cinta
kepada anak, bagaimana mencurahkan cinta kepada anak secara seimbang dan
proporsional. Hingga kita dan sang buah hati kesayangan menuai kebahagiaan di
dunia dan akhirat, biidznillah. Itulah wujud cinta yang hakiki, sehingga akan
membuahkan kesuksesan sejati.
Untuk itu, agar kecintaan dan perasaan
kasih-sayang kita kepada anak seimbang dan benar sesuai dengan kaidah dan
pedoman yang Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan, maka kita harus
membangunnya, sebagaimana kaidah-kaidah berikut.
ALLAH DAN RASULNYA HARUS DIDAHULUKAN
Orang tua mencintai anak ada batasannya.
Begitu juga anak mencintai bapak-ibunya ada batasannya. Yakni, seorang mukmin
wajib mendahulukan cinta kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu
'alaihi wa sallam dari segala macam kecintaan. Sehingga, cinta anak tidak boleh
mengalahkan cinta Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Seorang muslim harus mengutamakan perintah Allah Azza wa Jalla dan
RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, tunduk terhadap ajaran agama serta
menjauhi segala larangan syari’at.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu ,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Dan
demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya. Tidaklah salah seorang diantara kalian
beriman, hingga aku lebih dicintai daripada bapaknya, anaknya dan semua umat
manusia”. [Muttafaqun’alaih].
Imam Tirmidzi meriwayatkan kisah Salman bin
Amr bin Al Ahwas Radhiyallahu 'anhu. Salman menuturkan,”Bapakku telah bercerita
kepadaku, bahwa ia ikut hadir pada haji Wada’ bersama Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah memuji
dan menyanjung Allah Azza wa Jalla serta memberi peringatan dan nasihat. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,’Janganlah orang tua melakukan kejahatan
kepada anak, dan begitu juga anak jangan berbuat kejahatan kepada orang tua’.”
Pernah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla yang
artinya: “Dan
Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan”. (Al
Anfal:28), ketika melihat Hasan bin Ali terpeleset sementara ia seorang bocah
kecil, dan ketika itu Rasulullah sedang berkhutbah lalu turun untuk
menggendongnya.[1]
JANGAN BAKHIL, BODOH DAN MENJADI ORANG
PENGECUT KARENA ANAK
Dari Khaulah binti Hukaim, bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar dari rumah sedang menggendong salah
seorang cucunya, maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Dan
demi Allah, sesungguhnya kalian membuat bakhil, membuat pengecut dan membuat
bodoh (orang tua). Dan kalian laksana bunga raihan karunia dari Allah.[2]
Dari Hakim dari Al Aswad bin Khalaf dan
Thabrani dari Khaulah binti Hukaim berkata, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah memegang tangan Al Hasan, lalu Beliau menciumnya seraya Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya
anak itu membuat bakhil, pengecut, bodoh dan menyusahkan (orang tua)”.[3]
Ada beberapa komentar ulama tentang makna
hadits di atas. Zamakhsyary berkata,”Anak menjatuhkan orang tua kepada sifat
bakhil dalam masalah harta benda dengan alasan masa depan anak. Orang tua
menjadi bodoh karena sibuk mengurus anak hingga lalai mencari ilmu. Orang tua
menjadi pengecut hingga takut terbunuh, khawatir nanti anaknya terlantar. Dan
orang tua dibuat sedih karena berbagai masalah dan problem yang timbul dari
anak. Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam “Kalian laksana bunga
raihan karunia dari Allah”, karena orang tua mencium dan memeluk anak, bagaikan
mencium bunga raihan yang ditumbuhkan Allah.” [4]
Dan obat dari semua sifat tercela tersebut,
baik bakhil, pengecut dan bodoh, adalah dengan berpegang teguh kepada manhaj
Islam, yaitu manhaj yang telah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ajarkan
kepada para sahabatnya, pendidikan yang dibangun di atas kecintaan kepada Allah
Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ketaatan secara
total.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
berkata, bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam dan berkata, ”Sesungguhnya saya dalam keadaan susah”. (Kemudian)
Beliau menyuruh untuk menemui salah seorang isterinya, ia berkata,”Demi Dzat
yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, tidak ada sesuatu dalam
rumahku, kecuali air”. Lalu Beliau menyuruh untuk menemui isteri yang lain, dan
ia mengatakan hal yang sama. Tetapi semua juga mengatakan seperti itu. Maka
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa bisa menyambut
tamu, Allah Azza wa Jalla akan merahmatinya.” Kemudian ada seorang laki-laki
dari kaum Anshar yang bernama Abu Thalhah berkata, ”Saya, wahai Rasulullah,”
Maka ia mengajak tamu ke rumahnya, dan Abu Thalhah berkata kepada
isterinya,”Apakah engkau punya makanan?” Isterinya menjawab,”Tidak, kecuali
makanan untuk anak-anak.” Ia berkata, ”Hiburlah dan tidurkan mereka. Dan bila
tamu kita datang, maka tampakkan bahwa kita punya makanan. Dan bila tamu kita
sedang makan, maka bangkitlah ke arah lampu pura-pura ingin membenahi, lalu
matikanlah lampu itu.” Isterinya pun mengerjakan perintah itu. Setelah tamu
tersebut makan, maka Abu Thalhah semalam bersama isterinya tidur menahan lapar.
Lalu pada pagi hari ia datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan Beliau bersabda, ”Sungguh, Allah kagum atau tertawa terhadap tindakan fulan
dan fulanah, maka turunlah firman Allah.” [5]
Dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang
mereka berikan itu)
Dalam riwayat lain Nabi bersabda.
“Allah
sangat kagum terhadap sikap kalian berdua terhadap tamu kalian”.
Inilah obat penyakit bakhil yang diajarkan
oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat. Maka
semestinya kita meniru dan mengikuti jejak mereka, karena mereka adalah
sebaik-baik panutan dalam pendidikan yang benar.
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu
berkata, ”Suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
memerintahkan kami agar bersedekah. Dan ketika itu, aku sedang memiliki harta
yang sangat banyak. Maka aku berkata,’Hari ini aku akan mampu mengungguli Abu
Bakar’. Lalu aku membawa separuh hartaku untuk disedekahkan. Maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya,”Apa yang engkau tinggalkan untuk
keluargamu?” Aku menjawab,”Aku tinggalkan untuk keluargaku semisalnya”. Lalu
Abu Bakar datang membawa semua kekayaannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam bertanya,”Wahai, Abu Bakar. Apa yang engkau tinggalkan untuk
keluargamu?” Ia menjawab,”Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.” Maka
aku (Umar) berkata,”Aku tidak akan bisa mengunggulimu selamanya.” [6]
Inilah perlombaan dalam kedermawanan, cinta
sedekah dan lebih mengutamakan orang lain. Maka ajarilah anak-anak kita di atas
ajaran kebaikan, dan janganlah menjadikan cinta kepada anak membuat kita
mengalahkan cinta Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa
sallam.
SABAR TERHADAP COBAAN DARI ANAK
1.
Sabar atas cobaan ketika anak sakit.
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Tidaklah musibah terus menimpa terhadap seorang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan pada dirinya, anaknya dan harta bendanya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali. Dalam sebagian riwayat imam Malik: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah pada anaknya dan sanak kerabatnya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali”. [7]
“Tidaklah musibah terus menimpa terhadap seorang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan pada dirinya, anaknya dan harta bendanya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali. Dalam sebagian riwayat imam Malik: Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah pada anaknya dan sanak kerabatnya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali”. [7]
Abu Dawud meriwayatkan dari Muhammad bin
Khalid As Sulami dari bapaknya dari kakeknya, salah seorang sahabat Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya,
apabila seorang hamba ingin mendapatkan kedudukan tinggi dari sisi Allah
sementara tidak sampai, maka Allah akan menimpakan musibah pada jasadnya atau
harta bendanya atau anaknya”.
Dalam riwayat lain disebutkan: Kemudian
Allah memberi kesabaran hingga sampai kepada derajat yang diinginkan oleh
Allah.
2. Sabar menghadapi kematian anak.
Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
“Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya
adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua
orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki supaya
Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lain yang lebih baik
kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu
bapaknya)”. [Al Kahfi: 80, 81].
Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata,”Kecintaan kedua
orang tua kepada anaknya akan membuat mereka mengikuti anak dalam kekufuran.”
Abu Qatadah berkata,”Ketika anak terlahir, kedua orang
tua bergembira. Dan ketika anak terbunuh, mereka sedih. Sehingga bila anak
tersebut tetap hidup, maka akan menjadi sumber kehancuran bagi orang tua.
Hendaknya kedua orang tua bersabar dan menerima ketentuan takdir Allah Azza wa
Jalla, karena putusan Allah Azza wa Jalla atas seorang mukmin dalam hal yang
tidak menyenangkan, mungkin lebih baik daripada dalam hal yang menyenangkan
hati.”
Dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu bahwasannya Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Jika putera seorang hamba meninggal dunia,
Allah berfirman kepada Malaikat,”Kalian telah mengambil putera hambaku?” Mereka
berkata,” Ya.” Allah berfirman,”Kalian telah mengambil buah hati hambaku?”
Mereka berkata,”Ya.” Allah berfirman,”Apa yang diucapkan oleh hambaku?” Mereka
berkata,”Ia memujiMu dan mengembalikan kepadaMu.” Maka Allah
berfirman,”Bangunkanlah rumah di surga, dan berilah nama dengan Baitul Hamd.”
[8]
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik
Radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk
rumah dan bertemu dengan anak Beliau, Ibrahim, maka Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam menaruh kasihan kepadanya sementara kedua matanya berlinang air mata.
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam, ”Wahai, Rasulullah. Mengapa engkau menangis?” Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Wahai, Ibnu Auf. Ini adalah rahmat,
kemudian diikuti dengan yang lainnya.” Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
“Mata melelehkan air mata, hati bersedih,
namun kita tidaklah berucap kecuali dengan sesuatu yang membuat ridha Rabb kami
dan sesungguhnya kami sangat bersedih berpisah denganmu, wahai Ibrahim”.
Ibnu Hajar Al Asqalani membawakan komentar tentang hadits
di atas: Ibnu Baththal dan ulama selain dia berkata: ”Hadits di atas
menjelaskan tangisan yang mubah. Juga kesedihan yang diperbolehkan, yaitu
dengan linangan air mata dan kesedihan hati tanpa harus dibarengi dengan
perasaan tidak terima dan benci terhadap keputusan Allah Azza wa Jalla.
Demikian itu makna yang paling jelas dalam hadits tersebut. Dalam hadits di
atas, juga terdapat anjuran untuk mencium, memeluk anak, menyusui bayi,
menjenguk anak kecil yang sedang sakit, menghadiri orang yang sedang menghadapi
sakaratul maut, menyayangi anak kecil dan keluarga, dan boleh mengabarkan
kesedihan, walaupun bila bisa menyembunyikannya itu lebih baik. Dari hadits di
atas dapat diambil kesimpulan, bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam adalah orang lain, karena ketika Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam berbicara dengan anaknya, anak tersebut belum faham
pembicaraan karena dua hal: yang pertama, karena dia masih sangat kecil, dan
yang kedua, karena ia sedang menghadapi sakaratul maut. Apabila yang diinginkan
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits ini adalah semua orang, maka
tangisan tersebut tidak termasuk dalam jenis tangisan yang dilarang”.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas bin
Malik Radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
salalm bersabda.
“Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh
tiga anakanya yang belum mencapai umur baligh, melainkan Allah akan
memasukkannya ke dalam surga karena karunia dan rahmatNya kepada mereka”.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, juga dari Abu
Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda
“Tidaklah seorang muslim tiga anaknya
meninggal dunia tidak akan terkena neraka, kecuali hanya sekedar penebus
ketentuan”. [9]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Tidaklah salah seorang di antara kalian
tiga anaknya meninggal dunia lalu bersabar, kecuali ia masuk surga. Dan dua
anak juga”. [HR Bukhari dan Muslim].
Allah Azza wa Jalla juga akan memberi penghargaan kepada
seorang mukmin, berupa pertemuan di surga dengan anak cucunya sebagaimana
firman Allah Azza wa Jalla yang artinya”.
“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak
cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka
dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.
Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.
[Ath Thur:21].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , bahwa seorang
wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa
anak kecil lalu berkata, ”Wahai, Rasulullah. Berdo’alah untuknya, karena aku
menguburkan tiga anak.” Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda,
”Engkau telah memasang tirai yang kuat dari api neraka. Ia memanggil di pintu
surga, lalu diantara mereka yang bertemu dengan bapaknya lalu memegang baju
orang tuanya dan tidak dilepaskan hingga memasukkan ke dalam surga.” [HR
Muslim].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa ada
seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu
berkata,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kami tidak mampu bertemu denganmu di
suatu majlis, maka berilah janji waktu pada suatu hari agar kami bertanya
tentang agama?” Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda,”Kita akan
bertemu di rumah fulan.” Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam datang pada
hari yang telah dijanjikan dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Tidaklah salah seorang wanita di antara
kalian tiga anaknya meninggal dunia lalu bersabar berharap pahala, kecuali ia
masuk surga. Seorang wanita bertanya,”Bila yang meninggal dunia dua anak?”
Beliau bersabda,”Dan dua anak juga.” [HR Muslim].
Kepada saudaraku kaum muslimin, para orang
tua sekaligus murabbi (pendidik) generasi umat......, janganlah meremehkan
kebaikan yang bisa kita lakukan, meskipun hanya kecil sekalipun. Marilah kita
mencurahkan perhatian untuk berbuat yang sebaik-baiknya bagi anak-anak kita.
Semoga Allah memudahkan dan meringankan langkah kita untuk menggapai
keridhaanNya.
(Diangkat dan diterjamahkan Ummu Rasyidah,
dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Salihan, karya Al Akh Al Maghribi bin As
Sayyid Mahmud Al Maghribi).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi
04/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl.
Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647,
08157579296]
_______
Footnote
[1]. Tirmidzi, 3774; An Nasa’i, 3/192; dari hadits Buraidah tentang Hasan dan Husain. Tirmidzi berkata,”Ini hadits hasan gharib.”
Footnote
[1]. Tirmidzi, 3774; An Nasa’i, 3/192; dari hadits Buraidah tentang Hasan dan Husain. Tirmidzi berkata,”Ini hadits hasan gharib.”
[2]. Riwayat Imam Ahmad, 2/409 dan
Tirmidzi, 1910.
[3]. Riwayat Ibnu Majah, 3666; Shahihul
Jami’, 1/1990.
[4]. Manhaj Tarbawiyyah Nubuwah Lithafal,
198.
[5]. HR Bukhari Muslim
[6]. Riwayat Tirmidzi, 3675; Hakim dalam
Mustadrak, 1/414 dan dia berkata: Shahih.
[7]. Dikeluarkan Tirmidzi, 2401; Ahmad,
2/450; Shahihul Jami’, 2/2815 dan di dalam Ash Shahihah, 2280
[8]. Riwayat Tirmidzi, 1021 dan dia
berkata: “Hadits hasan shahih.”; Jami’ush Shaghir, 1/795; Ash Shahihah, 1407.
[9]. Yaitu ketentuan Allah dalam firmannya.
Lihat Fathul Bari jilid 3/461-463 (redaksi).
No comments:
Post a Comment
Berkomentarlah sesuka anda, tapi hargailah setiap usaha orang lain. :)